Bandarlampung, radarkota.id – Kondisi infrastruktur jalan lingkungan di lingkungan III, RT 26 Kelurahan Kemiling, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, menuai sorotan. Di tengah minimnya perhatian pemerintah, warga setempat terpaksa bergotong royong dan melakukan iuran swadaya untuk memperbaiki jalan lingkungan yang selama bertahun-tahun rusak dan tak kunjung mendapat perbaikan dari pemerintah daerah.
Pembangunan jalan tersebut dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan mengumpulkan dana secara sukarela untuk membeli material seperti semen, pasir, dan kebutuhan lainnya. Warga mengaku kecewa karena hingga kini belum ada realisasi perbaikan dari pemerintah, meski jalan tersebut sudah berulang kali didata dan diukur oleh petugas terkait.
Salah satu tokoh masyarakat RT 26 yang ikut terlibat langsung dalam pembangunan mengatakan bahwa seluruh kebutuhan material berasal dari hasil sokongan masyarakat.
“Kami sokongan pak, hari ini habis 11 zak hasil sokongan, begitu juga pasir dan lainnya,” ungkapnya kepada awak media, Minggu (10/05/2026), sembari meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Ia menjelaskan, jalan lingkungan tersebut terakhir kali mendapat pengaspalan pada tahun 2013. Sejak saat itu, kondisi jalan terus mengalami kerusakan tanpa adanya perbaikan berarti dari pemerintah.
“Jalan ini diaspal dari tahun 2013, jalan ini pun sudah banyak memakan korban pak, sampai saat ini belum diaspal ulang. Sudah berulang-ulang diukur oleh petugas, namun tidak ada tindak lanjut,” ujarnya dengan nada kecewa
Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan. Pasalnya, jalan lingkungan merupakan akses vital bagi aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan hingga mobilitas warga. Namun, hingga kini masyarakat merasa hanya dijadikan objek pendataan tanpa realisasi pembangunan yang nyata.
Semangat gotong royong warga akhirnya menjadi satu-satunya solusi agar akses jalan tetap dapat digunakan dengan layak. Meski dilakukan dengan keterbatasan, masyarakat tetap berupaya memperbaiki jalan demi kepentingan bersama.
Warga berharap aksi swadaya yang mereka lakukan dapat membuka mata pemerintah Kota Bandar Lampung, mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga pemerintah kota, agar lebih serius memperhatikan kondisi infrastruktur di lingkungan masyarakat.
Masyarakat juga meminta agar pemerintah tidak hanya datang melakukan pengukuran atau pendataan semata, melainkan segera merealisasikan pembangunan yang memang sangat dibutuhkan warga. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap perhatian pemerintah akan semakin menurun. (*)






